Jurnal Imedtech (Instructional Media, Design and Technology) Jurnal Ilmiah Citra Bakti Terakreditasi Skip to main content
Online ISSN: 2580-6033

Transformasi Artistik Residu Limbah Bambu untuk Penguatan Ekonomi Kreatif Kelompok Anyaman Wogo, Kabupaten Ngada

Authors

DOI:

https://doi.org/10.38048/acd3pw96

Abstract

Kabupaten Ngada memiliki populasi bambu yang besar, tetapi residu bambu di Kampung Wogo, Desa Ratogesa, masih terbuang sebagai kayu bakar, pagar, dan kandang ternak. Kelompok Anyaman Wogo, beranggotakan 10 ibu rumah tangga, menghadapi empat masalah prioritas: peralatan pengolahan terbatas pada parang dan pisau, ragam produk sedikit, keterampilan yang hanya diwarisi turun-temurun, serta belum adanya media promosi. Pengabdian ini bertujuan meningkatkan keberdayaan mitra pada aspek produksi dan pemasaran melalui transformasi residu bambu menjadi produk kerajinan bernilai jual. Kegiatan menggunakan pendekatan Participatory Rural Appraisal (PRA) dalam empat tahap, yaitu sosialisasi, pelatihan dan pendampingan, penerapan teknologi, serta keberlanjutan program, pada Agustus–Oktober 2025. Hasilnya, mitra menerima alat pengolahan bambu semi-mekanis dan memahami teknik pengolahan bahan baku serta anyaman produk rumah tangga dengan tingkat pemahaman 70–80%. Ragam produk berkembang dari besek dan tas menjadi sembilan kategori, antara lain sokasi, nampan, tempat tisu, asbak, ornamen lampu, dan ornamen dinding. Mitra juga memiliki katalog produk berbasis web sebagai media promosi pertama. Pengabdian ini menunjukkan bahwa residu bambu dapat menjadi basis ekonomi kreatif rumah tangga apabila pelatihan teknis disertai alat tepat guna dan saluran pemasaran digital.

Kata Kunci: residu bambu, anyaman Wogo, ekonomi kreatif, PRA, pemberdayaan perempuan

Ngada Regency has a large bamboo population, yet bamboo residue in Wogo Village, Ratogesa, is still discarded as firewood, fencing, and livestock pens. The Wogo Weaving Group, consisting of 10 housewives, faced four priority problems: processing tools limited to machetes and knives, a narrow product range, skills passed down only through tradition, and no promotional media. This community service aimed to empower the partner in production and marketing by transforming bamboo residue into marketable handicrafts. The program applied Participatory Rural Appraisal (PRA) in four stages, namely socialization, training and mentoring, technology application, and program sustainability, from August to October 2025. The partner received semi-mechanical bamboo processing tools and reached 70–80% comprehension of raw material processing and household weaving techniques. The product range grew from baskets and bags to nine categories, including rice containers, trays, tissue boxes, ashtrays, lamp ornaments, and wall ornaments. The partner also obtained a web-based product catalogue as its first promotional channel. The program shows that bamboo residue can support a household creative economy when technical training is combined with appropriate tools and digital marketing.

Keywords: bamboo residue, Wogo weaving, creative economy, PRA, women's empowerment

Author Biography

  • Gde Putu Arya Oka, Citra Bakti College
    ID SINTA 5975565

Published

2026-06-30

Issue

Section

Articles
Kembali ke Issue